Friday, December 16, 2016

Review Jurnal : Ethics in Public Administration written by D. Radhika



PENGANTAR
            Sejak tahun 1970 telah banyak terjadi perubahan dalam etika pelaksanaan administrasi . Perubahan ini telah terjadi sejak konsep administrasi di era administrasi baru (New Public Administration). Telah banyak penelitian yang membahas mengenai perubahan ini, salah satunya adalah Frederickson dan Ghere (2005). Mereka menyatakan bahwa menejerial dan dimensi moral perilaku etis individu adalah tantangan baru yang di sebabkan oleh globalisasi.
            Seperti yang di sampaikan oleh cooper(2001) etika dalam administrasi public bukan sekedar konsep semata namun telah banyak di gunakan sebagai pendekatan yang menunjukkan keberlanjutan yang merupakan sebuah dasar dalam bidang admnistrasi public. Administrasi publik memiliki masalah dalam penerapannya, kesulitannya adalah ketika etika telah tertanam dalam kerangka intelektual.
            Meski telah banyak yang melakukan penelitian dalam hal administrasi, namun mereka kurang berfokus pada etika administrasi. Kurang terfokusnya dikarenakan perubahan etika tergantung bagaimana kebijakan yang sedang berjalan dalam negara tersebut. Perkembangan dalam konsep e-governance menumbuhkan paradigma baru etika dalam administrasi publik. Etika dalam pelayanan publik merupakan masalah yang serius, terutama  di negara -negara uni eropa. Namun setiap negara memiliki standarisasi sendiri-sendiri dalam masalah etika tersebut.Kerangka etika sangat efisien dalam menangani tindak korupsi pada beberapa negara. Sedangkan di beberapa negara kerangka etika memiliki nilai lebih kecil daripada budaya yang telah ada dan telah banyak cara cara yang telah di usulkan. Sebagai contoh adalah negara Portugal.di negara tersebut masih mempertahankan budaya adminitrasi tradisonal, sehingga ketika ada konsep baru banyak mengakibatkan ketengangan antara budaya administrasi tradisional dan konsep kualitas dalam administrasi public.Jurnal ini mencoba untuk mengidentifikasi cara cara dimana kebijakan administrasi dalam organiasai publik dapat di terapkan dan di kelola secara efektif.
           
ETIKA DAN NEW PUBLIC ADMINISTRATION
            Etika administrasi publik pertama kali muncul pada masa klasik. Hal ini disebabkan karena teori administrasi publik klasik (Wilson, Weber, Gulick, dan Urwick) kurang memberi tempat pada pilihan moral (etika). Pada teori klasik kebutuhan moral administrator hanyalah merupakan keharusan untuk menjalankan tugas sehari-hari secara efisien. Dengan diskresi yang dimiliki, administrator publik pun tidak hanya harus efisien, tapi juga harus dapat mendefinisikan kepentingan publik, barang publik dan menentukan pilihan-pilihan kebijakan atau tindakan secara bertanggungjawab. Padahal etika merupakan dimensi yang penting dalam administrasi publik.
            Etika ini mempunyai peran yang sangat strategis karena etika dapat  menentukan keberhasilan atau pun kegagalan dalam tujuan organisasi, struktur organisasi, serta manajemen publik. Etika berhubungan dengan bagaimana sebuah tingkah laku manusia sehngga bisa dipertanggungjawabkan. Dalam melaksanakan tugas – tugas yang ada di dalam administrasi publik, maka seorang administator harus mempunyai tanggung jawab kepada publik. Dalam perwujudan tanggung jawab inilah etika tidak boleh di tinggalkan dan memang harus digunakan sebagai pedoman bertingkah laku.
            Untuk mencapai semua tujuannya, administrasi publik yang dahulunya hanya bersifat scientific, rational, and value-free diubah oleh NPA menjadi administrasi publik yang menekankan pada nilai-nilai organisasi dan kemanusiaan atau etika dan komitmen personal. Administrasi publik bukan lagi dipahami sebagai robot yang hanya menekankan pada isu-isu mekanis (efisiensi dan ekonomis). Seorang administrator publik tidak hanya harus memiliki kemampuan manajerial dan keahlian teknis, tetapi juga diperlukan kepekaan sosial.

MORAL: KEMUNCULAN PENALARAN ETIKA TENTANG MORAL
            Snell (1976) telah menyatakan bahwa itu adalah Socrates, pendiri filsafat moral yang mempertanyakan sifat dasar etika sebagai pikirannya membawanya ke orang dalam daripada faktor fisik eksternal di 5 SM. Pilihan moralitas etik yang baik dan suara adalah cara alami untuk mengembangkan serat moral yang kuat.
            Socrates juga merasa bahwa pengetahuan dan moralitas yang saling terkait dan tidak bisa berjalan salah satu saja. Dengan demikian, ia memikirkan kebajikan sebagai pusat dari pengetahuan dan beralasan bahwa kebajikan adalah pengetahuan. Oleh karena itu tindakan harus berasal dari pengetahuan tentang apa yang baik atau buruk dan kemudian, dihakimi oleh standar etika dan moral. Hal ini kemudian akan menyebabkan kebahagiaan sejati. (Vlastos, 1991), menyatakan bahwa itu adalah ide Sokrates bahwa moralitas terkait dengan kebahagiaan karena merasa etika adalah tentang mengetahui apa yang baik.
            Pikiran Sokrates juga mencapai orang-orang biasa melalui wacana dan perdebatan, dan percakapan intens, yang terus-menerus diperiksa, mempertanyakan dan dengan demikian, menimbulkan reaksi dan wawasan sementara pengujian pandangan dan teori-teorinya melalui dialog nya sekarang terkenal. Dia merasa keterlibatan konstan dengan pertanyaan kebajikan. Dia percaya bahwa moralitas akan membuat orang lebih baik karena mereka akan lebih fokus pada standar moral mereka sendiri.

FAKTOR ETIK DALAM ADMINISTRASI PUBLIK
Penentu utama perilaku administrasi di sektor publik meliputi:
1)      konstruk politik yang administrator publik merupakan bagian yang
2)      Kerangka hukum
3)      The administrator dan pegawai publik yang bertanggung jawab untuk penyediaan layanan publik
4)      Warga dan pengguna layanan publik yang merupakan bagian dari masyarakat sipil.
            Pertama, faktor-faktor penentu etika dalam administrasi publik berkaitan dengan atribut individu masyarakat / PNS termasuk etika pengambilan keputusan keterampilan (Richardson dan Nigro 1987), sikap mental (Bailey, 1964), kebajikan (Dimock, 1990; Dobel, 1990 ; Gregory, 1999; Hart, 1989), dan nilai-nilai profesional (Van wart, 1998). Kedua, dimensi struktur organisasi dijelaskan oleh akuntabilitas yang jelas, pengaturan kolaboratif, saluran perbedaan pendapat, dan prosedur partisipasi (Denhardt, 1988; Thomson, 1985). Ketiga, budaya organisasi politik termasuk artefak, keyakinan dan nilai-nilai, dan asumsi (Schein, 1985). Kepemimpinan penting dalam pengembangan, pemeliharaan, dan adaptasi budaya organisasi (Scott, 1982; Schein, 1985; Ott, 1989). Perilaku etis didorong ketika organisasi memiliki iklim di mana standar pribadi dan pendidikan karyawan ditekankan, di mana pengawas menekankan kebenaran, dan di mana karyawan secara teratur datang bersama untuk membahas masalah etika (Bruce, 1995, 1994). Akhirnya, harapan masyarakat termasuk partisipasi publik, hukum, dan kebijakan.
            Prinsip-prinsip dasar atau kriteria yang mengintegrasikan proses berurusan dengan dilema etika dalam administrasi publik adalah:
1)      Akuntabilitas Demokrat administrasi,
2)      Aturan hukum dan asas legalitas,
3)      Integritas profesional dan
4)      Responsiveness ke masyarakat sipil.
            Hal ini dapat digambarkan sebagai Alir (ALIR- accountability, Legality, Integrity, Responsiveness) model imperatif penalaran etika dalam administrasi publik. Penelitian oleh Parsons (1964) mempresentasikan konsep 'universal evolusi dalam masyarakat'; dimana ada aspek yang terkait dengan identifikasi masalah yang berkaitan dengan etika administrasi publik. Dalam Evolusioner nya Universals Parsons terikat teori fungsionalis untuk perspektif evolusi dan berpendapat bahwa, seperti organisme biologis, masyarakat maju melalui 'kemampuan adaptasi umum' mereka dengan lingkungan mereka. Hal ini dicapai terutama melalui proses diferensiasi struktural; yaitu, pengembangan lembaga khusus untuk melakukan fungsi sosial yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin khusus. Namun, meningkatnya kompleksitas ini kemudian mengharuskan mode baru integrasi, untuk mengkoordinasikan unsur-unsur baru dan lebih khusus. Hal ini dicapai melalui prinsip 'hierarki cybernetic' atau pertukaran informasi meningkat atau perkembangan ilmu pengetahuan.
            Evolusi kemudian dari tradisional ke masyarakat modern, dan kemajuan dapat memetakan melalui pengembangan (diferensiasi struktural) universal evolusi seperti organisasi birokrasi, uang dan pasar kompleks, stratifikasi, dan munculnya norma universal umum. Masing-masing memungkinkan masyarakat untuk beradaptasi lebih efisien dengan lingkungannya.
            Konsep Alir dan evolusi universal Parsons 'memiliki beberapa kesamaan dari sudut pandang administrasi publik. Identifikasi jenis baru pemerintahan yang mempromosikan universalitas evolusi akan penting dalam mengidentifikasi demokratis aturan hukum yang mampu menjalankan perannya serta dengan mempertimbangkan tugas dari masyarakat sipil. Peneliti merasa bahwa jenis saling ketergantungan dan koneksi akan membantu dalam membedakan antara berbagai konsep etika dalam administrasi publik. Ini juga akan membantu memperpanjang moral dan efektif empat konsep fungsional berikut :
1)      Akuntabilitas birokrasi publik yang membantu mengidentifikasi hubungan antara tindakan yang sah dan link ke administrasi.
2)      Aturan hukum dan legalitas dimana administrasi publik harus diatur oleh hukum.
3)      Konsep integritas profesional dan otonomi antara administrator publik yang pada akhirnya akan membantu mempromosikan prinsip meritokrasi.
4)      Konsep tanggung jawab dan tindakan segera administrasi publik untuk warganya. Akibatnya, aplikasi berseni dari satu set seperti perintah moral dalam situasi konkrit dan keadaan akan menjadi saksi jenis tertentu dari pertimbangan etis bahwa sistem administrasi tertentu atau lembaga publik dapat mencapai dan mempertahankan.

PRINSIP – PRINSIP ETIKA
            Hal ini penting untuk berkonsentrasi pada dua model yang terkemuka (ethics of the sovereign good and ethics of the service of goods) yang terlibat dengan pikiran etis dan tindakan dalam sektor publik. Selain itu, juga akan membandingkan mereka dengan etika kolaboratif yang disebutkan di atas. Ini harus diingat bahwa kita tidak mengambil pendekatan tertentu ataupun spesifik melainkan akan mengambil pemahaman yang lebih modern atau yang bisa disebut "Kantianisme vulgar" atau "utilitarianisme vulgar" (Harmon, 2005).
ethics of the sovereign good
            adalah seperangkat pedoman yang didasarkan pada suatu tindakan individu. Etika ini diidentifikasi untuk menjadi seperangkat nilai-nilai dari mana pandangan yang berbeda tentang 'apa yang baik' dapat dinilai. Hal ini dapat sering terlihat dalam skenario dunia nyata bahwa banyak orang memiliki versi yang berbeda dari konsep etika yang sama. Orang mencoba untuk memutar konsep sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan konsepsi mereka tentang "baik". Oleh karena itu penting untuk mengidentifikasi sudut pandang yang memegang semangat sejati pedoman etika. Michael (2005, 2003) membuat argumen yang menarik dalam "Administrasi Publik", berkaitan dengan etika ini.  Menurutnya hal itu bisa disebut 'moralitas berprinsip'. Dalam argumennya ia berbicara tentang mengapa seseorang tidak harus bertindak pada prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh etika firman baik. Alasan penting adalah masalah prinsip menentang. Menurut dia, tidak semua konflik dapat diselesaikan dengan mendasarkan pada etika yang berlangganan di berdaulat baik. Hal ini karena etika tidak mempertimbangkan sejumlah besar variabel yang prinsip lain berlaku untuk skenario tertentu. Masalah utama dengan etika yang berdaulat baik adalah kenyataan bahwa itu mengacu pada dirinya sebagai kata terakhir mutlak ketika datang ke keputusan etis. Masalah lainnya adalah bahwa ia cenderung menganggap sikap yang positivisme linguistik baku. Salah satu alasan mengapa etika kedaulatan baik begitu menarik adalah bahwa ia cenderung untuk mengatasi luar individu dan terlihat pada lebih besar kolektif ketika datang untuk mendefinisikan etika yang tepat. Oleh karena itu tidak akan memecahkan masalah individu tetapi akan lebih membawa kita ke dalam yang belum diakui dan ketidakmungkinan (dari sudut pandangnya) aporia.
ethics of the service of goods
            Nilai-nilai yang dipromosikan oleh etika ini terutama efisiensi dan memaksimalkan input untuk output. Pada dasarnya ada tiga aspek yang penting ketika datang ke layanan barang. Mereka adalah logika timbal balik, pandangannya tentang kolektif, dan kriteria untuk penilaian. Hal ini juga dapat dilihat dengan jelas bahwa etika ini terutama ditargetkan untuk pasar. Pada inti, layanan barang didasarkan pada saling tukar. Pada dasarnya ini mengasumsikan bahwa orang yang rasional dan memiliki kebebasan untuk memilih apa barang atau jasa yang mereka inginkan. Dengan demikian, jika seorang individu menyukai barang / jasa tertentu; dia / dia bisa masuk ke dalam perjanjian dengan pedagang sesuai dengan syarat untuk pembelian layanan yang sama atau baik. Dalam pertukaran individu dapat menawarkan sumber daya moneter untuk mengimbangi pedagang untuk layanan dan barang yang mereka berikan. Ini adalah proses damai yang terganggu hanya ketika seseorang gagal untuk mengantarkan barang sesuai dengan persyaratan setuju. Hal ini akan mengakibatkan penurunan barang sosial. Namun dalam kasus ketika semuanya berjalan lancar, apa yang baik bagi individu akhirnya menjadi baik untuk seluruh kolektif. Ada banyak pertanyaan yang telah diarahkan prinsip etika ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul sering berhubungan dengan praduga kepentingan diri sendiri dan tentang kemampuan orang untuk mengetahui kepentingan mereka benar. Pertanyaan-pertanyaan ini dianggap bermasalah karena alasan kedua empiris dan logis. Menurut peneliti yang berbeda (Bauman, 2001, 2005; Catlaw, 2009), kelangsungan hidup adalah masalah karena ethics of the sovereign good cenderung melegitimasi segala sesuatu selama itu mempromosikan perdagangan dan oleh karena itu dalam jangka panjang memiliki kecenderungan untuk memakai pergi minimal stabilitas. Stabilitas ini diperlukan untuk dunia dipahami dengan etika yang lebih baik. Ini mengabaikan masalah yang satu harus selalu bertanya "efisien untuk apa"? "Atau" baik untuk siapa? "Mengikuti garis pemikiran ini imperatif yang berbeda perlu dipahami dalam konteks etika dalam administrasi yang dibahas kemudian.
            Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).
            Paham utilitarianisme dapat diringkas sebagai berikut :
·         Tindakan harus dinilai benar atau salah hanya dari konsekuensinya (akibat, tujuan atau hasilnya).
·         Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan.
·         Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.
ACCOUNTABILITY IMPERATIVES
            Perbedaan yang jelas antara politik dan administrasi yang terbentuk dari doktrin terklasik dari politik modern dan administrasi publik (Easton, 1953), bukan hanya dalam pembagian fungsi dan pemisahan struktur namun juga ketergantungan struktur terhadap fungsi. Pemikiran ini dirasa politik lebih superior ketimbang administrasi. Birokrat setia terhadap menteri, menteri setia terhadap legislatif, dimana legislatif setia terhadap rakyat. Demikian wakil rakyat memegang tanggung jawab administrasi terhadap khalayak umum.
            Menteri bertanggung jawab terhadap parlemen dan bukan pegawai pemerintahan, inilah sebabnya pegawai pemerintah perlu bertindak sesui perintah dari menteri mereka yang diatur dengan peraturan yang tertulis.
            Ketika birokrasi dan administrasi mengambil kekuatan yang tidak termasuk kepunnyaanya, maka birokrasi akan masuk arena politik dan cenderung mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok. Oleh karena itu, Pegawai negeri perlu bekerja dengan rajin untuk menggambarkan kinerja birokrasi sesuai dengan keinginan rakyat. Pemerintahan modern menekankan perbedaan peran dan tanggung jawab antara administrasi dan politik yang menjadikan peningkatan efisiensi dari fungsi keduanya, penekanan pada perbedaan peran dianggap sebagai bagain penting dari moral dan kemampuan personal untuk dapat bersikap jujur terhadap kemampuan yang ada.

LEGAL IMPERATIVES
            Administrasi perlu mengetahui kerangka hukum dan tindakan yang mencakup di dalamnya agar tindakan pemerintah sah di mata hukum. Hukum adalah konsep univeral di dalam politik dan masyarakat. (Reichstadt, Etat de Droit). Max weber beranggapan perilaku didalam hukum sebagai cara ketiga dalam melegitimasi kekuasaan dalam hal karisma dan tradisi.
            Ketika administradi bertindak dibawah kekuasaan hukum, secara otomatis membangun benteng dalam kontrol dan regulasi. Kekuatan diperoleh dari masyarakat, oleh karena itu kekuatan tersebut perlu digukanan untuk kebaikan masyarakat. Oleh karena itu pemerintahan dan administrator tidak punya pilihan lain selain bekerja di bawah kerangka hukum.
            Brown dan Duguid (2000) menyatakan peradilan memastikan bahwa hukum akan diikuti selama pelaksaan tugas publik dan tidak ada ketidakadilan serta tidak ada penyalahgunaan kekuasaan. Pengawasan berkala dan perlindungan hukum harus menjadi prioritas jika reformasi administrasi ingin terlaksana. Bahkan Aristotle menyatakan bahwa hukum harus berkuasa tertinggi di mata masyarakat dan harus beroperasi tanpa gangguan.

THE INTEGRITY IMPERATIVES
            Chapman (1959) menyatakan dengan masuknya etika profesional ke bidang administrasi, sama halnya dengan kebutuhan pengetahuan akan administrasi publik dan menetapkan cakupan serta faktor penentu. Negara-negara di Eropa telah mengambil langkah awal untuk memprofesionalitaskan pemerintah. Birokrat dipilih berdasarkan kriteria spesial dan prosedur yang mengatur rekruitmen, jalur karir, disiplin dan cakupan dll. Profesional menjadikan adanya kesadaran terhadap hirarki kekuasaan pemerinthan namun tetap bekerja di bawah kekuasaan hukum.
            Argyriades (1996) menilai bahwa pegawai publik merupakan pekerja pemanen dari politisi sementara di dalam parliamen. Kompetisi mereka dari pengalaman, pengetahuan, pendalaman dll membantu mereka dalam mengakses kenyataan di lapangan dan memberikan anjuran kepada parliemen dan implementasi kebijakan publik secara efektif sesui dengan kepentingan umum.
            Hal penting di dalam pelayanan publik profesianal yang memuat  pengetahuan dalam bidangnya, penilaian dan bertindak sesuai standar serta komitmen dalam bidang yang sudah diberikan meliputi :
1.                  Rekruitmen perlu dilaksanakan berdasarkan tes dan kelayakan yang dilaksanakan oleh lembaga berbeda dan dilaksanakan berdasarkan regulasi yang mandiri dari politik dan sistem politik.  Rekruitmen harus benar-benar didasarkan terhadap kelayakan dan pencapaian pelamar.
2.                  Pemerintahan yang mandiri perlu ditekankan pada dewan administratif untuk mempormosikan semangat kerjasama dan profesionalitas. Pengalaman dan lama bekerja serta pecapain dan kinerja perlu dijadikan sebagai pertimbangan dalam promosi.
3.                  Pelatihan dan pembelajaran seharusnya meningkatan profesionalitas pada pemerintahan dan administrasi secara keseluruan.
            Profesionalitas dalam pelayan publik dapat terlihan dalam orang yang punya pengetahuan akan pekerjaanya, bidang dan kemampuan mereka untuk mengikuti standar etika tertinggi. Sehingga, mereka yang disebut sebagai profesional adalah yang memiliki gabungan dari kemapuan kemampuan tersebut. Publik umum memiliki garis besar tersendiri dalam menentukan pelayan publik sebagai profesional. Contohnya, korupsi dianggap sebagai hal yang buruk oleh karena itu profesional dianggap sebagai mereka yang tidak melakukan korupsi.
Korupsi dapat menjadi penghalang utama dalam proses pembangunan ekonomi dan pemajuan suatau negara.  Di dalam penelitian dari 150 pejabat di 60 negara berkembang, menyatakan bahwa koruptor sebagai penghalang terbesar untuk pembangunan negara-negara berkembang (Gray dan Kaufmann, 1998). Ogundiya (2010) berbendapat kestabilan demokrasi akan sulit dicapai selama korupsi masih ada dan tidak teratasi.
            Menurut Hegel (1967) “What the service of the state really requires is that men shall forego the selfish and capricious satisfaction of their subjective ends; by this very sacrifice, they  acquire the right to find their satisfaction in, but only in, the dutiful discharge of their public functions”. Bahwa pelayananan yang diperlukan rakyat membutuhkan pengorbanan dari pejabat untuk mengacuhkan kebutuhan pribadi atau kelompok. Pegawai pemrinatah akan diharapkan untuk mengikuti kode etik menyangkut nilai profesionalisme dan integritas. Keuntungan lain dari hal ini adalah dengan melakukan hal demikian akan mampu meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi. Integritas dapat tercapai melalui kontrol diri dalam kegiatan administrasi yang didasarkan pada standar etika.

THE IMPERATIVE FOR RESPONSIVENESS
            Menurut Hegel (1967), pegawai negeri bekerja semata-mata untuk negara, bukan utamanya untuk masyarakat, yang menentukan pilihan warga. Masyarakat sebagai pelawan untuk ini dipandang oleh Hegel sebagai keinginan total spesifik dan kontras. Hal ini kemudian menjadi bidang yang tertentu, dari orang-orang konkrit dengan kepemilikan pribadi 'kebutuhan sistem dan upaya untuk memuaskan mereka. Sedangkan negara melayani kepentingan umum, masyarakat sipil adalah sebagian dari kepentingan negara. Dalam hal ini ide entah bagaimana dikotomi dari konstruksi sosial, individu mengaktualisasikan diri sementara mengambil bagian dalam berbagai kegiatan di masyarakat sipil dan 'menjadi sesuatu yang pasti, yaitu, sesuatu yang khusus particular/tertentu' (Hegel, 1967). Namun, negara, dengan sistem tata kelola dan hukum memberikan kondisi yang mendasarinya dimana individu dan tindakan mereka dapat menemukan kepuasan mereka sepenuhnya. Untuk itu, negara itu untuk Hegel yang 'aktualitas gagasan etika', yang merupakan kesatuan universal dan yang partikular/khusus.
Ide Hegel dapat dipahami lebih baik jika dianggap bahwa ia tinggal di sebuah negara di mana banyak orang-orang pada dasarnya pelajaran tanpa peran dalam fungsi pemerintah dan karenanya kehidupan politik dan konvensi seperti Inggris telah hampir diabaikan. Karyanya adalah upaya untuk menyebarkan kesadaran di antara orang Jerman tentang aspek-aspek politik kehidupan.
            Gellner (1996) dan Argyriades (1998) mengamati bahwa tanpa masyarakat sipil ekspresif dan mandiri, tidak ada kehidupan politik dan bahkan kurang politik demokratis cenderung tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, masyarakat sipil telah dianggap sebagai salah satu syarat yang paling penting bagi kebebasan dan demokrasi. Ide yang dianjurkan oleh awal abad kedua puluh satu adalah bahwa negara harus tidak masyarakat sipil langsung atau tunduk untuk itu. Melainkan harus menekankan dan mendirikan tugas membangun modal sosial untuk keuntungan umat manusia yang terlibat. Oleh karena itu, menyulap keadaan waspada dan masyarakat sipil yang aktif menimbulkan rencana yang baik untuk meningkatkan standar dan masa depan untuk tugas-tugas demokratis.
            Dalam hal ini, 'kebaikan kepentingan umum' penalaran etis dalam tindakan negara mensyaratkan bahwa lembaga-lembaga publik harus responsif terhadap masyarakat dan memperhatikan kebutuhan dan tuntutan rakyat, memfasilitasi akses ke layanan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk manusia yang berkelanjutan dan pembangunan sosial. (Bovens, 1998) Negara, kewaspadaan tidak hanya terbatas pada otoritas pasar tetapi sebagian besar terlibat dalam peran warga negara dalam setiap tingkat dan di setiap tingkat pemerintah, dan juga melibatkan memberikan kekuasaan kepada orang-orang dalam kelompok manusia. Tanggungjawab juga memerlukan akan konsultasi di pemerintahan dan promosi semacam 'etika komunikatif' (Habermas, 1987) dalam urusan sosial. Transisi, namun rumit mungkin, dari jenis perintah dari otoritas atas orang-orang untuk jenis yang lebih komunikatif penalaran dan administrasi hal tampaknya muncul sebagai pergeseran paradigma radikal dalam urusan sosial.
            Dalam konteks ini, masyarakat sipil tidak hanya memoles negara dengan kebutuhan dan tuntutan yang bersifat individual, tetapi juga dengan sumber informasi yang berharga, umpan balik kritik dan evaluasi kinerja. Oleh karena itu, gagasan seperti desentralisasi, de-birokratisasi, privatisasi dan partisipasi masyarakat sebagai alat terbesar dalam perbaikan reformasi, program dan praktek banyak sistem administrasi kontemporer  dan mempengaruhi antarmuka antara masyarakat sipil dan negara. Hal ini juga mempengaruhi interaksi antara negara dan masyarakat sipil. (Buchanan, 1985) mengamati bahwa masyarakat telah berhenti menjadi hanya perhatian dari aktor-aktor negara dan dibentuk oleh birokrasi, sebaliknya sekarang dalam lingkup perhatian aktif warga negara.
            Tentu, 'pandangan negara administrasi publik mencerminkan yang mendasarinya filosofi masyarakat dan negara '(Chapman, 1959). Pejabat negara dipengaruhi oleh cara masyarakat luas menghargai mereka. Akhirnya, PNS membentuk profesi kelas menengah, setingkat unggul, memperoleh fitur bahwa masyarakat mengharapkan dari mereka. Administrasi publik membentuk rezim parsial di kompleks sosial; itu adalah bagian dari negara, yang tunduk pada 'etika tanggung jawab' yang berbeda - dalam Weberian indrawi vis-à-vis masyarakat kesamaan..
            Ide-ide kewaspadaan dan akuntabilitas dan tanggung tanggungjawab memiliki beberapa  Ide-ide ini juga memiliki tumpang tindih. Terlepas dari sejumlah makna yang mereka miliki, itu tidak dapat diabaikan bahwa dasar keprihatinan aspek tugas dan kesiapan pegawai negeri untuk berpikir jujur dan mempertahankan gerakan mereka untuk kepentingan publik.

NEW ETHICAL APPROACH
Denhardt dan Denhardt (2002) berpendapat bahwa administrator publik mempengaruhi, dan dipengaruhi oleh nilai-nilai, dan preferensi sistem pemerintahan yang kompleks. Variabel ini tidak hanya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh administrator publik, variabel tersebut juga memengaruhi akuntabilitas. Denhard dan Denhard mengharapkan adanya “new public service” bukan “new public management” dalam prinsip melayani dari pada mengarahkan. Paradigma new public service pertama dikenalkan oleh Janet V. Dernhart dan Robert B. Dernhart melalui buku “The New Public Service, Serving not Steering”. Pada buku tersebut diawali dengan kalimat “government shouldn’t be run like a business”. Pemerintahan tidak sseharusnya digerakkan seperti bisnis. New Public Service juga mempunyai maksud sama seperti New Public Management yaitu sebagai counter paradigm atau bisa dibilang hendak mendekonstruksi prinsip-prinsip New Public Management
            Maesschalk (2001) mendefinisikan pendekatan “new public service” sebagai alternatif ketiga yang layak diamati diantara "old public administration” dan “new public management”. Para penulis ”new public service”sebagian besar bergabung dengan kelompok tradisionalis dalam penilaian negatif dari konsekuensi etis dari reformasi NPM. Mereka mengusulkan mekanisme baru di mana "peran utama dari pegawai negeri adalah untuk membantu warga mengartikulasikan dan memenuhi kepentingan mereka bersama daripada mencoba untuk mengontrol atau mengarahkan masyarakat."
Management of Ethics
Konsep etika secara alami bergantung pada keinginan politik. Dengan cara ini ada ruang yang cukup untuk membangun kode moral holistik. Berdiri sendiri tidak ada gunanya., dengan berkembang mekanisme tertentu untuk fungsi moral, seseorang dapat memberikan solusi bagi konflik etika, kesulitan, dan skenario lainnya. Hal ini juga membantu untuk mendorong pertumbuhan instrumen dan teknik yang dapat memprediksi kesulitan yang berhubungan dengan etika dan bermanfaat untuk mengusulkan solusi dengan cara yang lebih menyenangkan.
Pengetahuan tentang kebajikan, dan hal semacam kesadaran hanya dapat datang melalui pencarian abadi dan penyelidikan tentang hal-hal dan tindakan. Moralitas pada dasarnya adalah tentang pertanyaan. Ini adalah keuntungan utama dari kehidupan manusia lain itu adalah kehidupan yang tidak layak. Hidup yang belum terkena tes tidak dapat diterima untuk manusia kata Socrates, di Apology biasa nya (38 A) untuk berdiri moralistik dalam hidup.
Dealing With Ethical Dilemmas In Public Administration
Hart (1961) menyatakan bahwa ketika dihadapkan dengan pertanyaan dasar tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana berperilaku dalam skenario rumit dan sejauh mana lawan dari nilai-nilai atau faktor pilihan dapat digunakan dalam skenario, merupakan salah satu kebingungan atau "pilihan sulit". Dilema adalah konsep yang lebih luas dan masalah tidak peduli seberapa sulit atau rumit. Alasannya adalah bahwa dilema, tidak dapat diselesaikan dalam istilah di mana mereka awalnya disampaikan kepada pengambil keputusan. Terjebak dalam dilema, pilihan produsen tidak hanya dihadapkan dengan penggantian yang saling bertentangan dan tidak diinginkan, lebih buruk. Kemudian, terdapat kasus etika dan kurangnya kejelasan tentang nilai-nilai keseluruhan untuk membimbing tindakan dan pilihan dalam 'hard case' muncul pada administrasi. Namun hal itu bisa dianggapmtidak serius jika semua berjalan.

CONCLUSION
            Sebelum akhir abad ke 20, banyak negara, pemerintahan dan lembaga public mengambil resiko ke era perubahan.pada dasarnya pada masa perubahan , bukan pergeseran model. Negara yang berbasih diktaktor semakin bebas dan komunikasi social dengan orang orang dan administrator. Pada intinya bagaimana negara semakin bertanggungjawab terhadap pelayanan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
            Perencanaan perbaikan moral masyarakat menjadi sebuah jawaban yang mempengaruhi demokrasi, hukum, motivasi dan etika dalam masyarakat dan berkomukasi dengan masyarakat sipil.
            Tidak banyak ketidaksesuaian yang bertabrakan, yang mengakibatkan pemerintah tidak konsisten.sebenarnya setiap persyaratan yang memiliki perbedaan besar dapat menjadi sebuah rintangan bukan menjadi asset. Beberapa perbedaan pendapat antara konstituen dari sebuah entitas yang mengacu pada negara yang lebih besar hanya dapat di atur jika keadilan di berikan pada setiap orang atau dibagikan tepat pada semuanya. Aristoteles menyatakan bahwa keadilan adalah keseimbangan antara semangat dan tindakan, dan kebaikan moral ada di tengah tengah negara.
            Tujuan dasar tidak memenangkan salah satu prinsip bukan pula pengurangan ketidaksesuaian antara keduanya namun menciptakan kondisi yang harmonis dan saling medukung dan saling melengkapi.jadi modernitas dan perubahan dalam administarsi public adalah bukan berlaku terhadap masyrakat sipil tetapi juga pada pelayanan sipil dan administrasi publik di lokal maupun internasional. Oleh karena itu etika harus fleksibel ketika membuat bingkai keputusan yang rasional. Dapat di lihat ketika bagaimana seorang administrator menjawab permasalahan.  Dengan demikian, ada kebutuhan mendesak untuk menempatkan moralitas dan etika pertama dalam administrasi publik saat ini.


No comments:

Post a Comment