Friday, December 16, 2016

Teori Pembangunan : Post Development



A.    Latar belakang munculnya Teori Pasca Pembangunan- Post Development
Pemikiran pembangunan modernisme saat ini hanya berpusat pada perkembangan pembangunan dunia barat atau Negara maju yang pada hakikatnya justru menciptakan sebuah ideologi bahwa Negara baratlah yang memegang struktur kekuasaan pembangunan dunia dan membuat Negara-negara berkembang akan selalu membutuhkan Negara maju. Ketidakseimbangan pengaruh dan dominasi barat yang membuat para ahli Teori Anti Pembangunan mencoba mengubah arah pikir pembangunan.
Arturo escobar (1995:51)  dan beberapa tokoh lainnya seperti Wolfgang Sachs (1992:1)  berpendapat teori pembangunan yang hadir adalah sebuah wacana yang tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan kekuasaan. Oleh karena itu mereka berusaha mendekonstruksi wacana pembangunan yang mendominasi masyarakat dunia ketiga. Wolfgang Sachs adalah seorang penulis terkemuka dari pemikiran pasca-pembangunan. Sebagian besar tulisannya difokuskan pada pembangunan berkelanjutan lingkungan dan gagasan bahwa pengertian masa pembangunan secara alami praktek berkelanjutan di dunia yang terbatas ini. Dari sinilah terciptalah pemikiran mengenai teori pasca pembangunan untuk menyempurnakan teori sebelumnya. Para ahli tersebut mengkritik adanya teori pembangunan karena :
Teori development ini dikritik karena :
·         Teori pembangunan secara tidak langsung bertujuan untuk mengendalikan dan menguasai pemikiran-pemikiran negara berkembang.
·         Teori development dianggap menciptakan garis-garis kesenjangan baru antara Negara Maju dengan Negara Berkembang, di sini timbul pemikiran bahwa negara berkembang pada akhirnya merasa dirugikan dan bahkan dieksploitasi. Selain itu, dari kondisi ini sangat memungkinkan adanya praktik-praktik kolonialisme pada negara-negara berkembang tersebut.
Contoh : Lumbung-lumbung sumber daya alam negara berkembang yang dikuras oleh negara-negara maju dengan berkedok pembangunan.
·         Pembangunan dinilai hanya akan membuat negara berkembang semakin terpuruk dan miskin, karena pembangunan di negara barat tidak dapat diterapkan secara serta merta ke negara berkembang.

Teori pasca pembangunan sendiri dimulai pada sekitar tahun 1980. Sebagian besar ahli teori Pasca Pembangunan menyatakan bahwa pembangunan telah usang dan menuju kebangkrutan sehingga memerlukan alternatif solusi baru dengan melahirkan teori pembangunan yang lebih relevan dengan keadaan saat ini. Teori Pasca Pembangunan menyajikan pemikiran bahwa pembangunan harus memperhatikan keadaan konteks local, budaya dan sejarah yang diterapkan di masyarakat. Kesimpulannya, post development muncul sebagai gagasan emansipasi negara dunia ketiga dalam menulis naskah dan narasi pembangunan mereka sendiri yang hadir akibat kekecewaan terhadap konsep dan praktek pembangunan yang sebelumnya telah ada.
Pada dasarnya teori pasca pembangunan menggunakan pluralisme pada gagasan dalam pembangunan. Beberapa gagasan juga menilai bahwa pembangunan hanya membuat negara-negara berkembang akan semakin terpuruk dan miskin, karena keterpusatan pembanguna dari negara barat tidak dapat diterapakan secara serta merta ke negara-negara berkembang tersebut.
            Post development sejatinya menawarkan solusi baru, yakni cara pandang melampaui pembangunan yang mengukur keberhasilan negara dalam hal produksi dan konsumsi ekonominya (post growth). Post development dalam beberapa aspek sejalan dengan perkembangan pemikiran teori sosial yang banyak merujuk pada gagasan post-strukturalis, post modernis dan post colonial, yang menyangkal keabsahan narasi besar serta universalitas pengetahuan.
Post-Development hadir dan semakin berkembang dengan konsep-konsep baru untuk melakukan perubahan-perubahan dan tentu saja memperbaiki konsep dari “development” itu sendiri. Maka muncullah Teori Post-Development untuk menawarkan solusi baru. Terdapat dua solusi baru yang dikemukakan (Escobar :1995), yakni :
·         Melakukan pengembangan pada komunitas local perkotaan dan pedesaan serta pada sektor informal.
·         Membentuk struktur sosial baru yang jauh lebih baik daripada struktur yang terbentuk pada teori development. Dapat ditinjau dari tiga aspek struktur sosial
Ø  Sosial Ekonomi : lebih mengarah ke solidaritas dan timbal balik ekonomi, bukan pasar dunia
Ø  Sosial Politik : lebih demokratis dan bukan cenderung berdasarkan kewenangan pusat
Ø  Sosial Budaya : lebih mengembangkan pengetahuan lokal daripada pengetahuan modern


B.     Apa itu Post Development ?
     Post development tidaklah sama dengan gagasan human development atau people centered development. Ia justru sudah mencakup dan melebur kesemuanya. Dalam hal ini, jalan yang hendak ditempuh adalah dengan mendengarkan aktor-aktor pinggiran yang selama ini hanya menjadi penonton pembangunan, dan mencari jalan keluar yang sesuai dengan kaidah koeksistensi, pencarian makna kebebasan yang melekat pada individu serta komunitasnya, untuk membiarkan narasi kecil menjadi pelantun kehidupan yang berarti. Post development juga tidak berarti subsistensi, ketiadaan atau penghentian pembangunan, melainkan perencanaan yang tidak lagi berlandaskan pertumbuhan, tetapi pada pluralisme tujuan, kebutuhan dan keberlanjutan. 
     Aktornya? Tidak mungkin tidak melibatkan negara, meski ia tidak lagi yang pertama dan utama. Di sinilah paradoks perencanaan pembangunan, dimana ia tidak bisa berjalan di ruang hampa alias ketiadaan negara. Post development juga sangat mungkin self contradicting,  karena dalam upayanya untuk memerdekakan subyek, ia terjebak dalam upaya untuk melakukan hal yang sama seperti development, lantas menjadi proyek pencerahan yang kembali menjadi perangkap, menjelma sebuah oxymoron. Post development juga dianggap akan berujung pada statisme, dimana gagasan modernisasi justru ditangkal dengan kearifan lokal dan tradisi yang belum tentu lebih baik dari rasionalisasi, fondasi utama modernisasi.Catatan: Di Indonesia, gagasan post development sedikit banyak ditularkan oleh almarhum Mansour Fakih. Bukunya Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi adalah rujukan utama dan senantiasa relevan.
     Teori post-development merupakan pemikiran yang mengkritik pemikiran – pemikiran dari teori development itu sendiri. Post-development muncul karena ketidak setujuannya dengan pemikiran dari teori development. Kemunculan dari post-development berasal sejak tahun 1980 dimana beberapa aktivis mengalami kekecewaan terhadap konsep dan praktek pembangunan yang telah dikenalkan oleh Barat. Alasan yang diberikan adalah ketidaksesuaian penerapan dan pemahaman model industri masyarakat terhadap keadaan teknologi. post-development sendiri masih mempertahankan tujuan pembangunan yaitu terkait erat dengan modernisasi, dimana bagi mereka perlu adanyan perluasan kontrol dari pihak Barat atau dunia barat dan juga sekutu – sekutu nasionalis di negara – negara berkembang.
              Pemikiran post-development sendiri dimulai dengan serangkaian inovasi tersendiri yang muncul dari adanya tradisi intelektual yang bervariasi, meskipun sebagian besar muncul dipihak kiri. Karena itu, Para ahli teori pembangunan menekankan, untuk meningkatan peningkatan manusia yang dimana bukanlah inti dari tujuan utama dari pembangunan. Kontrol dan dominasi dari manusia merupakan gambaran dari lebih banyak orang yang lebih kedalam sector formal dimana pentingnya adanya konsolidasi akan negara – negara yang memiliki kewenangan atas wilayah tersebut. Kita ambil saja misalnya Jamaika, di Jamaika misalnya, terdapat separuh dari aktivitas ekonomi sekarang yang dihitung untuk mengambil tempat diluar sector formal itu sendiri. Bisa dilihat bahwa basis pajak pemerintah juga terletak dibawah potensi aktivitas ekonomi tersebut. Dengan begitu, sumber daya yang tersedia bagi Negara untuk memaksakan populasi, baik dalam pendanaan pasukan keamanan atau penyediaan layanan dan juga manfaat patronasi dalam masyarakat dimana sector informal yang terlampau mapan atau terlalu terpenuhi, dapat dibatasi.
              Meskipun teori post-development merupakan teori alternative dan kritikan terhadap teori development yang memiliki pemikiran mengenai keprihatinan kepraktisannya, masih timbulnya kritikan atau kecemasan dari ahli – ahli teori pembangunan. Karena bisa diperhatikan bahwa teori post-development tidak memiliki satu definisi yang jelas, melainkan memiliki banyak definisi yang menjelaskan mengenai post-development itu sendiri apa. Yang pastinya mengenai studi pembangunan yang masih paling praktis yakni mengenai displin, Karena bersngkutan dalam beberapa cara memproduksi analisis – analisis dengan aplikasi yang layak. Kesalahan fatal dalam teori post-development sendiri adalah bahwa post-development menentang secara efektif tanpa mengajukan usulan atau alternative – alternative yang menggantikan atau kebijakan mengenai penentangan akan teori pembangunan, dalam arti kata “mengusulkan”. Hal ini ada kemungkinan bahwa teori post-development tidak perlu menawarkan alternative kepada teori development karena belum bisa memberikannya.

C.    Tahapan Perkembangan Teori Post Development
Teori post development merupakan teori yang menyempurnakan teori-teori terdahulu mengenai pembangunan untuk berbagai negara didunia. Tahapan-tahapan perkembangan teori post development adalah sebagai berikut:
a.      Anti-development
            Merupakan penolakan dari teori development. Anti western tetapi jarang menemukan solusi. Beberapa tokoh anti-development diantaranya adalah, Walfgang Sach, Sideway, Gustafo Esteva, Ivan Illich.
            Pemikiran utamanya merupakan pemikiran radikal yang menolak teori pembangunan. Anti-development mempertimbangkan mengenai pemikiran development yang penuh dengan konsep yang cacat dan berbahaya, penuh dengan tekanan negara barat dan homogenitas (pieterse:2001). Dan atas nama pembangunan, pengembangan neokolonialisme terjadi di beberapa negara dunia ketiga.
b.      Beyond development
            Teori ini menolak tetapi juga mencari alternative untuk pembangunan yang berada pada pemikiran post development. Yang mana berpusat pada penjelasan praktik-praktik, pengetahuan masyarakat local, dan aspek kebudayaan masayarakat local. Teori ini sendiri sebenarnya menyerupai beyond development dan grassroots economy (Pieterse:2001:105)
            Karena memang sebenarnya beberapa aspek yang menunjang pembangunan masyarakat juga harus dipertimbangkan lebih dalam. Hal ini bertujuan agar mencapai pembangunan yang tepat bagi masyarakat terutama pada masyarakat negara berkembang.

c.       Post development
            Gagasan utama teori ini adalah pendekatan “diskursus” yang mengkonstruksi pembangunan dan mencoba mencari penjelasan mengenai kegagalan yang terjadi dalam pembangunan (Foucault:1980)

D.    Awal dari kemunculan Teori Post Development
Teori Post Development muncul pada 1980-an dan 1990-an melalui karya-karya dari ilmuan seperti Arturo Escobar, Gustavo Esteva, Majid Rahnema, Wolfgang Sachs, James Ferguson. Teori post-development muncul untuk mengkritisi teori development, yang mana teori post-development memegang konsepsi bahwa pembangunan yang kita lakukan hingga kini tak lebih dari pada refleksi hegemoni yang dilakukan bangsa barat. Dalam kritiknya tersebut, teori post-development menyatakan bahwa selama ini pemikiran kita telah di konstruksi oleh pemikiran-pemikiran barat agar mereka memiliki kekuatan politik.
Teori Post Developmet muncul sebagai kritik terhadap teori Development yang lebih bernuansa kebarat-baratan, dan bertujuan utama untuk mengendalikan serta menguasai pemikiran negara-negara berkembang dunia ketiga. Teori development juga dianggap hanya menciptakan garis-garis kesenjangan baru antara negara maju dengan negara berkembang, dari sini juga timbul pemikiran yang menjelaskan bahwa negara-negara berkembang pada akhirnya justru merasa dirugikan dan bahkan dieksploitasi. Selain itu, dari kondisi ini sangat memungkinkan adanya praktik-praktik kolonialisme pada negara-negara berkembang tersebut. Lumbung-lumbung sumber daya alam negara berkembang dikuras oleh negara-negara maju dengan berkedok pembangunan.
Teori post-development mulai berkembang ketika munculnya gerakan-gerakan yang berasal dari akar rumput [1](grassroots movement) komunitas local dan sector informal. Post-Development ini juga memberikan gagasan bahwa apabila Negara berkembang ingin mengalami peningkatan taraf hidup, maka Negara berkembang tersebut harus mengganti kebudayaan Negara mereka dengan kebudayaan yang telah digunakan oleh Negara maju tersebut. Kaum Post-Development memberikan jalan tengah perbaikan keadaan Negara berkembang dengan membentuk suatu struktur sosial yang yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan yang ada dalam sisi ekonomi, politik, maupun dalam sisi pengetahuan (knowledge).
Melihat kenyataan tersebut, kemudian Post-Development hadir dan semakin berkembang dengan konsep-konsep baru untuk melakukan perubahan-perubahan dan tentu saja memperbaiki konsep dari “development” itu sendiri. Para pengkritisi mengungkapkan alternative Post Development yaitu dengan pengembangan-pengembangan pada komunitas local perkotaan dan pedesaan serta pada sektor informal. Sebagai reaksi terhadap kegagalan pembangunan, mereka mengklaim struktur social yang baru berdasarkan konsepsi yang berbeda dari ekonomi (lebih mengarah ke solidaritas dan timbal balik ekonomi, bukan pasar dunia), politik (lebih demokratis dan bukan cenderung berdasarkan kewenangan pusat) , serta pengetahuan yaitu lebih ke tradisional daripada modern. Sering unsur-unsur tradisional dan modern bercampur atau “hibridasi” (Escobar 1995:51,96, 217 ff).
Teori post development menawarkan sebuah alternatif baru untuk memperbaiki pemikiran development yaitu, dengan membentuk struktur sosial baru yang jauh lebih baik daripada struktur yang terbentuk pada teori development. Struktur politik demokrasi dan mengembangkan pengetahuan local dibandingkan pengetahuan modern.
E.     Teori dalam Post Development
Beberapa teori-teori post development, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.      Arturo Escobar – Encountering development : Making and unmaking of the third world
            Teori ini menjelaskan bahwa yang dibutuhkan bukanlah sekedar pembangunan alternatif (alternatif development), melainkan alternatif lain untuk menggantikan pembangunan secara mendasar tidak berpihak kepada masyarakat-masyarakat negara miskin dan berkembang. Menurut Escobar (1995:51)  pembangunan haruslah dilihat sebagai ciptaan yang diproduksi dunia pertama tentang pembangunan tertinggal didunia ketiga dan bukan hanya sebagai alat ekonomi untuk mengontrol realitas dunia ketiga saja.
            Escobar (1995:52) dalam bukunya menyatakan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai ciptaan yang diproduksi dunia pertama tentang pembangunan tertinggal di dunia ketiga dan bukan hanya sebagai alat ekonomi untuk mengontrol realitas dunia ketiga saja. Arturo Escobar menunjukkan bagaimana kebijakan pembangunan menjadi mekanisme kontrol yang hanya sebagai meresap dan efektif sebagai mitra kolonial.
b.      James Ferguson - The Anti-Politics Machine
            Kerangka kepemerintahan Ferguson lebih menekankan kepada The Anti-Politics Machine dimana pengembangan depolitisasi dan birokrasi daya di Lesotho tahun 1990. Ferguson (1990:25) berusaha untuk mengeksplorasi bagaimana wacana pembangunan bekerja yaitu bagaimana bahasa dan praktek yang digunakan oleh spesialis pembangunan mempengaruhi cara dimana pengembangan disampaikan dan konsekuensi yang tidak diinginkan itu dapat mendorong, ia menemukan bahwa proyek-proyek pembangunan yang gagal pada istilah mereka sendiri dapat di definisikan oulang sebagai keberhasilan proyek baru yang dimodelkan. Efek dari pembangunan menurutnya telah mencapai depolitisasi dari alokasi sumberdaya dan memperkuat daya birokrasi.
Pada tahun 1975-1984, Ferguson melakukan studi mengenai kegagalan pembangunan pedesaan di negara Lesotho. Lesotho adalah sebuah negara terbelakang di benua Afrika. Hasil dari studi Ferguson kemudian dituangkan dalam bukunya yang berujudul The Anti-Politics Machine: Development, Depolitization, and Bureucratic Power in Lesotho. Dalam studinya, Ferguson mengemukakan bahwa pembangunan di Lesotho mengalami kegagalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, karena pada saat itu pembangunan sebagai nilai utama dilihat hanya sebagai instrumen teknis, proyek industri yang anti politik. Serta pembangunan hanya dilihat sebagai instrumen representasi ekonomi dan rekayasa sosial yang mengabaikan representasi politik.
            Istilah mesin anti-politik yang digunakan Ferguson merujuk pada agen-agen dan lembaga keuangan internasional yang mengintervensi pembangunan di Lesotho. Proyek pembangunan mereka tidak pernah berhasil dilakukan. Agen-agen tersebut merupakan mesin anti-politik yang berarti hanya memberikan bantuan dana, tanpa memperhatikan permasalahan-permasalahan sosial, budaya, serta politik yang ada di tengah-tengah masyarakat Lesotho. Akibatnya, proyek-proyek pembangunan tersebut hanya bersifat tambal sulam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, proyek pembangunan internasional bukanlah sebuah upaya untuk mengurangi kemiskinan, tetapi merupakan instrumen penting imperialisme dan kontrol kelas dan bagaimana kontrol tersebut dapat bekerja secara efektif.
            Buku The Anti-Politics Machine  ini adalah hasil dari disertasi Ferguson yang meneliti tentang kegagalan “proyek pembangunan pedesaan”. Dalam buku ini membedah peran aparat konseptual tentang bagaimana ide “pembangunan” dalam prakteknya diciptakan, bagaimana mereka melakukannya, dan efek apa yang akhirnya dihasilkan. Proses depolitisasi “pembangunan” menurut Ferguson dijalankan atau dibentuk oleh apa yang ia sebut sebagai “Mesin Anti-politik”. Melalui kerja dari para “Mesin Anti-Politik” telah menciptakan teknikalisasi kebijakan yang menyingkirkan aspek politik (depolitisasi) dalam setiap masalah yang ada. Itulah yang membuat terjadinya kegagalan “pembangunan” yang mengakibatkan terjadinya cengkeram perluasan birokrasi atau kontrol politik dari pemerintah. Hal tersebut merupakan benang merah dari buku James Ferguson ini.
c.       Walfgang Sachs The Dictionary of Development
            Sachs (1992:1) menyatakan bahwa pembangunan diambang kehancuran pada tataran intelektual seperti sebuah mercusuar yang seharusnya menjadi inspirasi sebuah bangsa menjadi retak dan mulai runtuh. Beberapa ahli merasa kecewa terhadap pembangunan yang ada. Kelompok ini merasa bahwa konsep teori pembangunan telah usang atau bangkrut dalam prakteknya, pembangunan lebih banyak sisi negatif dari pada sisi positif.
            Beberapa ahli teori pembangunan mengkritik praktek teori pembangunan yang membedakan prespectif teori pasca pembangunan dengan prespektif lainnya. Teori pasca pembangunan menyatakan keruntuhan pembangunan dan lebih menekankan pada ‘berbagai alternatif untuk pembangunan’ daripada ‘pembangunan alternatif’. Penolakan terhadap seluruh paradigma pembangunan ini, menyebabkan teori pasca pembangunan merupakan kritik yang lebih bersifat destruktif dari pada konstruktif (1992:1).
            Dalam buku Sachs ini menjelaskan dan mengkritisi paradigma pembangunan modern yang merupakan ambisi peralihan dari sistem tata hidup manusia tradisional demi tercapainya kemajuan ekonomi. Menurut paradigma ini, percepatan pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud melalui sebuah usaha dan penyesuaian yang memang akan dilalui dengan banyak duka. Istilah Escobar “encountering development” dalam bukunya menggambarkan pandangan kritisnya terhadap development discourse yang dikonstruksikan untuk “basic human needs” dalam ukuran kemajuan ekonomi modern. Melihat pembangunan sabagai sebuah diskursus membuat istilah pembangunan bertahan dalam dominasinya.
d.      Gustavo Esteva - The Age Of Development
            Pemikiran Gustavo adalah tentang kritik development yang mana ia menolak teori development yang selalu menjadi pedoman sebuah negara dalam melakukan pembangunan di negaranya. Pada dasarnya menurut Gustavo strategi dan konsep pembangunan tidak dapat digeneralisir dan diterapkan pada suatu negara tanpa mengetahui latar belakang sejarah negara, latar belakang sosial budaya, dan latar belakang ekonomi suatu negara yang akan melakukan proses pembangunan.[2]
e.       Majid Rahnema
            Rahnema (1997 : 20) dalam karyanya pada kemiskinan menyatakan bahwa tidak ada ‘solusi’ tentang kemiskinan dalam modernitas tetapi untuk mencari alternatif tidak mudah karena struktur kekuasaan yang ada tetap mempertahankan kekuasaannya agar kemiskinan tetap terjaga. Untuk mewujudkan paradigma alternatif rahnema menyatakan bahwa pasca pembangunan tidak harus difokuskan pada rencana aksi hanya operasional atau spektakuler atau strategi.
            Konsep dari Majid Rahnema yang mengaggap bahwa teori development hanya menguntungkan negara-negara barat sebagai alat kapitalis dunia. Sebaliknya ia menyerukan komitmen dari orang-orang baik disetiap komunitas untuk membuat paradigma baru pada persahabatan dan rasa sebenarnya dari masyarakat dengan tujuan mengakhiri modernitas dan hegemoni global. (Rahnema 1991 ; 1997)

            Di Indonesia sendiri, gagasan post development sedikit banyak ditularkan oleh almarhum Mansour Fakih[3]. Bukunya Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi adalah rujukan utama dan senantiasa relevan. Buku ini menyanggah pendekatan tentang saat ini banyak yang menyebut andil terbesar kenapa krisis ekonomi yang meledak adalah pemerintahan yang buruk. Maka pemecahannya kemudian adalah tampilnya pemerintahan yang bersih. Dan buku ini menyanggah pendekatan tersebut dan mulai mengkaji lebih mendalam peran dan teori pembangunan. Dengan dalil tersebut buku ini melacak dari akar sejarah hingga perkembangan kontemporer teori pembangunan dan beberapa gagasan perlawanan atas teori pembangunan.
F.     Negara Post Development
            Adapun beberapa negara yang telah atau masih menganut teori post development dalam  negaranya adalah negara Jepang , Korea selatan dan China. Adapun persamaan dari ketiga negara tersebut adalah ketiga negara kawasan Asia tersebut sebelum masuk menjadi negara maju seperti sekarang , mereka tidak menggantungkan diri terhadap negara-negara maju barat seperti Amerika. Justru ketiga negara tersebut dapat menjalankan perekonomian dalam negeri dengan memanfaatkan potensi lokal yang mereka miliki sendiri.
·         China menggerakkan potensi sumber daya manusia mereka yang melimpah untuk membuka home-industry sebesar mungkin dalam rangka peningkatan perekonomian negara. Bahkan hingga sekarang , barang-barang hasil produksi china pun di ekspor ke negara-negara tetangga seperti Indonesia
·         Korea selatan tetap mempertahankan nilai budayanya dan tidak luntur meskipun terkena pengaruh pembangunan dan globalisasi barat . Hal ini (nilai budaya lokal) meningkatkan Korea Selatan dalam hal sektor pariwisata dan industri dalam negeri.
·         Jepang  juga memanfaatkan potensi budaya Jepang yang kental untuk memajukan industri dalam negeri . Tidak hanya itu , sikap warga jepang yang “disiplin: selalu dimanfaatkan dalam proses pembangunan , sehingga pembangunan di Jepang dapat berjlan dengan baik.

Daftar Pustaka


Buku Literatur
Brigg, M. 2002. Post-Development, Foucault and the Colonisation Metaphor, Third           World Quarterly. 23 (3): 421-436.
Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development : The Making and Unmaking of the Third         World. Pricenton : Pricenton University Press
Ferguson,James.1990. The Anti-Politics Machine. Princetown University Press
Habibi, M. 2010. Post-Development: Meninjau Ulang Pembangunan. Yogyakarta: Gava    Media
Rahnema, M. (1997). Signposts for Post-Development, ReVision, 19 (4).
Rahnema, M.;Bawtree, V.1997. The post-development.e- reader ISBN1-85649-474-8
Sachs, Wolfgang. 1992. The Development Dictionary : A Guide to Knowledge as Power. New York : Zed Books Ltd.
Simanjuntak,B.,I.L.Pasaribu. (1982). Sosiologi Pembangunan, Bandung: Penerbit TARSITO

Makalah & Jurnal
Makalah Sosiologi Pembangunan – Post Development Karya Risky Dwi Yuliani Sosiologi            Universitas Jember

Website
www.colorado.edu diakses pada 7/12/2015 3:30
http://selik.org/2009/10/25/the-anti-politics-machine-review/ diakses 6/12/2015 12:04
http://stupem-chi3.blogspot.co.id diakses pada 7/12/2015 4:12





[1] Habibi, M. 2010. Post-Development: Meninjau Ulang Pembangunan. Dalam Kumorotomo, W dan Widaningrum, A (Ed). Reformasi Aparatur Negara ditinjau Kembali. Yogyakarta: Gava Media
[2] Dikutip dari Jurnal http://www.kumoro.staff.ugm.ac.id/file_artikel/Teori%20Pasca-Pembangunan.pdf
[3]Dikutip dari Simanjuntak,B.,I.L.Pasaribu. (1982). Sosiologi Pembangunan, Bandung: Penerbit Tarsito halaman 24-25

1 comment:

  1. Hallo kak menurut kaka di era pak jokowi ini teori pembangunan apa yang paling cocok utk indonesia? Makasih kak🙏

    ReplyDelete