A.
Latar
belakang munculnya Teori Pasca Pembangunan- Post Development
Pemikiran pembangunan modernisme
saat ini hanya berpusat pada perkembangan pembangunan dunia barat atau Negara
maju yang pada hakikatnya justru menciptakan sebuah ideologi bahwa Negara
baratlah yang memegang struktur kekuasaan pembangunan dunia dan membuat
Negara-negara berkembang akan selalu membutuhkan Negara maju. Ketidakseimbangan
pengaruh dan dominasi barat yang membuat para ahli Teori Anti Pembangunan
mencoba mengubah arah pikir pembangunan.
Arturo escobar (1995:51) dan beberapa tokoh lainnya seperti Wolfgang
Sachs (1992:1) berpendapat teori
pembangunan yang hadir adalah sebuah wacana yang tidak dapat dilepaskan
hubungannya dengan kekuasaan. Oleh karena itu mereka berusaha mendekonstruksi
wacana pembangunan yang mendominasi masyarakat dunia ketiga. Wolfgang Sachs
adalah seorang penulis terkemuka dari pemikiran pasca-pembangunan. Sebagian
besar tulisannya difokuskan pada pembangunan berkelanjutan lingkungan dan
gagasan bahwa pengertian masa pembangunan secara alami praktek berkelanjutan di
dunia yang terbatas ini. Dari sinilah terciptalah pemikiran mengenai teori
pasca pembangunan untuk menyempurnakan teori sebelumnya. Para ahli tersebut
mengkritik adanya teori pembangunan karena :
Teori development ini dikritik karena :
·
Teori pembangunan secara tidak langsung
bertujuan untuk mengendalikan dan menguasai pemikiran-pemikiran negara
berkembang.
·
Teori development dianggap menciptakan
garis-garis kesenjangan baru antara Negara Maju dengan Negara Berkembang, di
sini timbul pemikiran bahwa negara berkembang pada akhirnya merasa dirugikan
dan bahkan dieksploitasi. Selain itu, dari kondisi ini sangat memungkinkan
adanya praktik-praktik kolonialisme pada negara-negara berkembang tersebut.
Contoh : Lumbung-lumbung sumber
daya alam negara berkembang yang dikuras oleh negara-negara maju dengan
berkedok pembangunan.
·
Pembangunan dinilai hanya akan membuat
negara berkembang semakin terpuruk dan miskin, karena pembangunan di negara
barat tidak dapat diterapkan secara serta merta ke negara berkembang.
Teori pasca pembangunan sendiri
dimulai pada sekitar tahun 1980. Sebagian besar ahli teori Pasca Pembangunan
menyatakan bahwa pembangunan telah usang dan menuju kebangkrutan sehingga
memerlukan alternatif solusi baru dengan melahirkan teori pembangunan yang
lebih relevan dengan keadaan saat ini. Teori Pasca Pembangunan menyajikan
pemikiran bahwa pembangunan harus memperhatikan keadaan konteks local, budaya
dan sejarah yang diterapkan di masyarakat. Kesimpulannya, post development muncul sebagai gagasan emansipasi negara dunia
ketiga dalam menulis naskah dan narasi pembangunan mereka sendiri yang hadir
akibat kekecewaan terhadap konsep dan praktek pembangunan yang sebelumnya telah
ada.
Pada dasarnya teori pasca
pembangunan menggunakan pluralisme pada gagasan dalam pembangunan. Beberapa
gagasan juga menilai bahwa pembangunan hanya membuat negara-negara berkembang
akan semakin terpuruk dan miskin, karena keterpusatan pembanguna dari negara
barat tidak dapat diterapakan secara serta merta ke negara-negara berkembang
tersebut.
Post development sejatinya
menawarkan solusi baru, yakni cara pandang melampaui pembangunan yang mengukur
keberhasilan negara dalam hal produksi dan konsumsi ekonominya (post growth). Post development dalam beberapa aspek sejalan dengan perkembangan
pemikiran teori sosial yang banyak merujuk pada gagasan post-strukturalis, post
modernis dan post colonial, yang menyangkal keabsahan narasi besar serta
universalitas pengetahuan.
Post-Development hadir dan semakin
berkembang dengan konsep-konsep baru untuk melakukan perubahan-perubahan dan
tentu saja memperbaiki konsep dari “development” itu sendiri. Maka muncullah
Teori Post-Development untuk menawarkan solusi baru. Terdapat dua solusi baru
yang dikemukakan (Escobar :1995), yakni :
·
Melakukan pengembangan pada komunitas
local perkotaan dan pedesaan serta pada sektor informal.
·
Membentuk struktur sosial baru yang jauh
lebih baik daripada struktur yang terbentuk pada teori development. Dapat
ditinjau dari tiga aspek struktur sosial
Ø Sosial
Ekonomi : lebih mengarah ke solidaritas dan timbal balik ekonomi, bukan pasar
dunia
Ø Sosial
Politik : lebih demokratis dan bukan cenderung berdasarkan kewenangan pusat
Ø Sosial
Budaya : lebih mengembangkan pengetahuan lokal daripada pengetahuan modern
B.
Apa
itu Post Development ?
Post development tidaklah sama dengan gagasan human development atau people centered development. Ia justru
sudah mencakup dan melebur kesemuanya. Dalam hal ini, jalan yang hendak
ditempuh adalah dengan mendengarkan aktor-aktor pinggiran yang selama ini hanya
menjadi penonton pembangunan, dan mencari jalan keluar yang sesuai dengan
kaidah koeksistensi, pencarian makna kebebasan yang melekat pada individu serta
komunitasnya, untuk membiarkan narasi kecil menjadi pelantun kehidupan yang
berarti.
Post
development juga tidak berarti
subsistensi, ketiadaan atau penghentian pembangunan, melainkan perencanaan yang
tidak lagi berlandaskan pertumbuhan, tetapi pada pluralisme tujuan, kebutuhan
dan keberlanjutan.
Aktornya? Tidak mungkin tidak melibatkan
negara, meski ia tidak lagi yang pertama dan utama. Di sinilah paradoks
perencanaan pembangunan, dimana ia tidak bisa berjalan di ruang hampa alias
ketiadaan negara. Post development juga sangat mungkin self contradicting, karena
dalam upayanya untuk memerdekakan subyek, ia terjebak dalam upaya untuk
melakukan hal yang sama seperti development,
lantas menjadi proyek pencerahan yang
kembali menjadi perangkap, menjelma sebuah oxymoron. Post development juga
dianggap akan berujung pada statisme, dimana
gagasan modernisasi justru ditangkal dengan kearifan lokal dan tradisi yang
belum tentu lebih baik dari rasionalisasi, fondasi utama modernisasi.Catatan:
Di Indonesia, gagasan post development sedikit banyak ditularkan oleh almarhum
Mansour Fakih. Bukunya Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi
adalah rujukan utama dan senantiasa relevan.
Teori
post-development merupakan pemikiran yang mengkritik pemikiran – pemikiran dari
teori development itu sendiri. Post-development muncul karena ketidak
setujuannya dengan pemikiran dari teori development. Kemunculan dari post-development berasal sejak tahun 1980 dimana
beberapa aktivis mengalami kekecewaan terhadap konsep dan praktek pembangunan
yang telah dikenalkan oleh Barat. Alasan yang diberikan adalah ketidaksesuaian
penerapan dan pemahaman model industri masyarakat terhadap keadaan teknologi. post-development sendiri masih mempertahankan tujuan pembangunan
yaitu terkait erat dengan modernisasi, dimana bagi mereka perlu adanyan
perluasan kontrol dari pihak Barat atau dunia barat dan juga sekutu – sekutu
nasionalis di negara – negara berkembang.
Pemikiran post-development sendiri dimulai dengan serangkaian
inovasi tersendiri yang muncul dari adanya tradisi intelektual yang bervariasi,
meskipun sebagian besar muncul dipihak kiri. Karena itu, Para ahli teori
pembangunan menekankan, untuk meningkatan peningkatan manusia yang dimana
bukanlah inti dari tujuan utama dari pembangunan. Kontrol dan dominasi dari
manusia merupakan gambaran dari lebih banyak orang yang lebih kedalam sector
formal dimana pentingnya adanya konsolidasi akan negara – negara yang memiliki kewenangan
atas wilayah tersebut. Kita ambil saja misalnya Jamaika, di Jamaika misalnya,
terdapat separuh dari aktivitas ekonomi sekarang yang dihitung untuk mengambil
tempat diluar sector formal itu sendiri. Bisa dilihat bahwa basis pajak
pemerintah juga terletak dibawah potensi aktivitas ekonomi tersebut. Dengan
begitu, sumber daya yang tersedia bagi Negara untuk memaksakan populasi, baik
dalam pendanaan pasukan keamanan atau penyediaan layanan dan juga manfaat
patronasi dalam masyarakat dimana sector informal yang terlampau mapan atau
terlalu terpenuhi, dapat dibatasi.
Meskipun teori post-development merupakan teori alternative dan
kritikan terhadap teori development yang memiliki pemikiran mengenai
keprihatinan kepraktisannya, masih timbulnya kritikan atau kecemasan dari ahli
– ahli teori pembangunan. Karena bisa diperhatikan bahwa teori post-development
tidak memiliki satu definisi yang jelas, melainkan memiliki banyak definisi
yang menjelaskan mengenai post-development itu sendiri apa. Yang pastinya
mengenai studi pembangunan yang masih paling praktis yakni mengenai displin,
Karena bersngkutan dalam beberapa cara memproduksi analisis – analisis dengan
aplikasi yang layak. Kesalahan fatal dalam teori post-development sendiri
adalah bahwa post-development menentang secara efektif tanpa mengajukan usulan
atau alternative – alternative yang menggantikan atau kebijakan mengenai
penentangan akan teori pembangunan, dalam arti kata “mengusulkan”. Hal ini ada
kemungkinan bahwa teori post-development tidak perlu menawarkan alternative
kepada teori development karena belum bisa memberikannya.
C.
Tahapan
Perkembangan Teori Post Development
Teori post development merupakan
teori yang menyempurnakan teori-teori terdahulu mengenai pembangunan untuk
berbagai negara didunia. Tahapan-tahapan perkembangan teori post development
adalah sebagai berikut:
a.
Anti-development
Merupakan
penolakan dari teori development. Anti western tetapi jarang menemukan solusi.
Beberapa tokoh anti-development diantaranya adalah, Walfgang Sach, Sideway,
Gustafo Esteva, Ivan Illich.
Pemikiran
utamanya merupakan pemikiran radikal yang menolak teori pembangunan.
Anti-development mempertimbangkan mengenai pemikiran development yang penuh
dengan konsep yang cacat dan berbahaya, penuh dengan tekanan negara barat dan
homogenitas (pieterse:2001). Dan atas nama pembangunan, pengembangan
neokolonialisme terjadi di beberapa negara dunia ketiga.
b.
Beyond
development
Teori ini
menolak tetapi juga mencari alternative untuk pembangunan yang berada pada
pemikiran post development. Yang mana berpusat pada penjelasan praktik-praktik,
pengetahuan masyarakat local, dan aspek kebudayaan masayarakat local. Teori ini
sendiri sebenarnya menyerupai beyond development dan grassroots economy
(Pieterse:2001:105)
Karena
memang sebenarnya beberapa aspek yang menunjang pembangunan masyarakat juga
harus dipertimbangkan lebih dalam. Hal ini bertujuan agar mencapai pembangunan
yang tepat bagi masyarakat terutama pada masyarakat negara berkembang.
c.
Post
development
Gagasan utama
teori ini adalah pendekatan “diskursus” yang mengkonstruksi pembangunan dan
mencoba mencari penjelasan mengenai kegagalan yang terjadi dalam pembangunan (Foucault:1980)
D.
Awal
dari kemunculan Teori Post Development
Teori Post Development muncul pada
1980-an dan 1990-an melalui karya-karya dari ilmuan seperti Arturo Escobar,
Gustavo Esteva, Majid Rahnema, Wolfgang Sachs, James Ferguson. Teori
post-development muncul untuk mengkritisi teori development, yang mana teori
post-development memegang konsepsi bahwa pembangunan yang kita lakukan hingga
kini tak lebih dari pada refleksi hegemoni yang dilakukan bangsa barat. Dalam
kritiknya tersebut, teori post-development menyatakan bahwa selama ini
pemikiran kita telah di konstruksi oleh pemikiran-pemikiran barat agar mereka
memiliki kekuatan politik.
Teori Post Developmet muncul
sebagai kritik terhadap teori Development yang lebih bernuansa kebarat-baratan,
dan bertujuan utama untuk mengendalikan serta menguasai pemikiran negara-negara
berkembang dunia ketiga. Teori development juga dianggap hanya menciptakan
garis-garis kesenjangan baru antara negara maju dengan negara berkembang, dari
sini juga timbul pemikiran yang menjelaskan bahwa negara-negara berkembang pada
akhirnya justru merasa dirugikan dan bahkan dieksploitasi. Selain itu, dari
kondisi ini sangat memungkinkan adanya praktik-praktik kolonialisme pada
negara-negara berkembang tersebut. Lumbung-lumbung sumber daya alam negara
berkembang dikuras oleh negara-negara maju dengan berkedok pembangunan.
Teori post-development mulai
berkembang ketika munculnya gerakan-gerakan yang berasal dari akar rumput [1](grassroots movement) komunitas local dan
sector informal. Post-Development ini juga memberikan gagasan bahwa apabila
Negara berkembang ingin mengalami peningkatan taraf hidup, maka Negara
berkembang tersebut harus mengganti kebudayaan Negara mereka dengan kebudayaan
yang telah digunakan oleh Negara maju tersebut. Kaum Post-Development
memberikan jalan tengah perbaikan keadaan Negara berkembang dengan membentuk
suatu struktur sosial yang yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan yang ada
dalam sisi ekonomi, politik, maupun dalam sisi pengetahuan (knowledge).
Melihat kenyataan tersebut,
kemudian Post-Development hadir dan semakin berkembang dengan konsep-konsep
baru untuk melakukan perubahan-perubahan dan tentu saja memperbaiki konsep dari
“development” itu sendiri. Para pengkritisi mengungkapkan alternative Post
Development yaitu dengan pengembangan-pengembangan pada komunitas local
perkotaan dan pedesaan serta pada sektor informal. Sebagai reaksi terhadap
kegagalan pembangunan, mereka mengklaim struktur social yang baru berdasarkan
konsepsi yang berbeda dari ekonomi (lebih mengarah ke solidaritas dan timbal
balik ekonomi, bukan pasar dunia), politik (lebih demokratis dan bukan
cenderung berdasarkan kewenangan pusat) , serta pengetahuan yaitu lebih ke
tradisional daripada modern. Sering unsur-unsur tradisional dan modern
bercampur atau “hibridasi” (Escobar 1995:51,96, 217 ff).
Teori post development menawarkan
sebuah alternatif baru untuk memperbaiki pemikiran development yaitu, dengan
membentuk struktur sosial baru yang jauh lebih baik daripada struktur yang
terbentuk pada teori development. Struktur politik demokrasi dan mengembangkan
pengetahuan local dibandingkan pengetahuan modern.
E.
Teori
dalam Post Development
Beberapa teori-teori post development, diantaranya
adalah sebagai berikut :
a.
Arturo
Escobar – Encountering development : Making and unmaking of the third world
Teori ini
menjelaskan bahwa yang dibutuhkan bukanlah sekedar pembangunan alternatif
(alternatif development), melainkan alternatif lain untuk menggantikan
pembangunan secara mendasar tidak berpihak kepada masyarakat-masyarakat negara
miskin dan berkembang. Menurut Escobar (1995:51) pembangunan haruslah dilihat sebagai ciptaan
yang diproduksi dunia pertama tentang pembangunan tertinggal didunia ketiga dan
bukan hanya sebagai alat ekonomi untuk mengontrol realitas dunia ketiga saja.
Escobar
(1995:52) dalam bukunya menyatakan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai
ciptaan yang diproduksi dunia pertama tentang pembangunan tertinggal di dunia
ketiga dan bukan hanya sebagai alat ekonomi untuk mengontrol realitas dunia
ketiga saja. Arturo Escobar menunjukkan bagaimana kebijakan pembangunan menjadi
mekanisme kontrol yang hanya sebagai meresap dan efektif sebagai mitra
kolonial.
b.
James
Ferguson - The Anti-Politics Machine
Kerangka
kepemerintahan Ferguson lebih menekankan kepada The Anti-Politics Machine
dimana pengembangan depolitisasi dan birokrasi daya di Lesotho tahun 1990.
Ferguson (1990:25) berusaha untuk mengeksplorasi bagaimana wacana pembangunan
bekerja yaitu bagaimana bahasa dan praktek yang digunakan oleh spesialis
pembangunan mempengaruhi cara dimana pengembangan disampaikan dan konsekuensi
yang tidak diinginkan itu dapat mendorong, ia menemukan bahwa proyek-proyek
pembangunan yang gagal pada istilah mereka sendiri dapat di definisikan oulang
sebagai keberhasilan proyek baru yang dimodelkan. Efek dari pembangunan
menurutnya telah mencapai depolitisasi dari alokasi sumberdaya dan memperkuat
daya birokrasi.
Pada tahun 1975-1984, Ferguson
melakukan studi mengenai kegagalan pembangunan pedesaan di negara Lesotho.
Lesotho adalah sebuah negara terbelakang di benua Afrika. Hasil dari studi
Ferguson kemudian dituangkan dalam bukunya yang berujudul The Anti-Politics
Machine: Development, Depolitization, and Bureucratic Power in Lesotho. Dalam
studinya, Ferguson mengemukakan bahwa pembangunan di Lesotho mengalami
kegagalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, karena pada saat
itu pembangunan sebagai nilai utama dilihat hanya sebagai instrumen teknis,
proyek industri yang anti politik. Serta pembangunan hanya dilihat sebagai
instrumen representasi ekonomi dan rekayasa sosial yang mengabaikan
representasi politik.
Istilah
mesin anti-politik yang digunakan Ferguson merujuk pada agen-agen dan lembaga
keuangan internasional yang mengintervensi pembangunan di Lesotho. Proyek
pembangunan mereka tidak pernah berhasil dilakukan. Agen-agen tersebut
merupakan mesin anti-politik yang berarti hanya memberikan bantuan dana, tanpa
memperhatikan permasalahan-permasalahan sosial, budaya, serta politik yang ada
di tengah-tengah masyarakat Lesotho. Akibatnya, proyek-proyek pembangunan
tersebut hanya bersifat tambal sulam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa,
proyek pembangunan internasional bukanlah sebuah upaya untuk mengurangi
kemiskinan, tetapi merupakan instrumen penting imperialisme dan kontrol kelas
dan bagaimana kontrol tersebut dapat bekerja secara efektif.
Buku
The Anti-Politics Machine ini adalah hasil dari disertasi Ferguson yang
meneliti tentang kegagalan “proyek pembangunan pedesaan”. Dalam buku ini
membedah peran aparat konseptual tentang bagaimana ide “pembangunan” dalam
prakteknya diciptakan, bagaimana mereka melakukannya, dan efek apa yang
akhirnya dihasilkan. Proses depolitisasi “pembangunan” menurut Ferguson
dijalankan atau dibentuk oleh apa yang ia sebut sebagai “Mesin Anti-politik”.
Melalui kerja dari para “Mesin Anti-Politik” telah menciptakan teknikalisasi
kebijakan yang menyingkirkan aspek politik (depolitisasi) dalam setiap masalah
yang ada. Itulah yang membuat terjadinya kegagalan “pembangunan” yang
mengakibatkan terjadinya cengkeram perluasan birokrasi atau kontrol politik
dari pemerintah. Hal tersebut merupakan benang merah dari buku James Ferguson
ini.
c.
Walfgang
Sachs The Dictionary of Development
Sachs (1992:1)
menyatakan bahwa pembangunan diambang kehancuran pada tataran intelektual
seperti sebuah mercusuar yang seharusnya menjadi inspirasi sebuah bangsa
menjadi retak dan mulai runtuh. Beberapa ahli merasa kecewa terhadap
pembangunan yang ada. Kelompok ini merasa bahwa konsep teori pembangunan telah
usang atau bangkrut dalam prakteknya, pembangunan lebih banyak sisi negatif
dari pada sisi positif.
Beberapa
ahli teori pembangunan mengkritik praktek teori pembangunan yang membedakan
prespectif teori pasca pembangunan dengan prespektif lainnya. Teori pasca
pembangunan menyatakan keruntuhan pembangunan dan lebih menekankan pada
‘berbagai alternatif untuk pembangunan’ daripada ‘pembangunan alternatif’.
Penolakan terhadap seluruh paradigma pembangunan ini, menyebabkan teori pasca
pembangunan merupakan kritik yang lebih bersifat destruktif dari pada
konstruktif (1992:1).
Dalam
buku Sachs ini menjelaskan dan mengkritisi paradigma pembangunan modern yang
merupakan ambisi peralihan dari sistem tata hidup manusia tradisional demi
tercapainya kemajuan ekonomi. Menurut paradigma ini, percepatan pertumbuhan
ekonomi hanya akan terwujud melalui sebuah usaha dan penyesuaian yang memang akan
dilalui dengan banyak duka. Istilah Escobar “encountering development” dalam
bukunya menggambarkan pandangan kritisnya terhadap development discourse yang
dikonstruksikan untuk “basic human needs” dalam ukuran kemajuan ekonomi modern.
Melihat pembangunan sabagai sebuah diskursus membuat istilah pembangunan
bertahan dalam dominasinya.
d.
Gustavo
Esteva - The Age Of Development
Pemikiran
Gustavo adalah tentang kritik development yang mana ia menolak teori
development yang selalu menjadi pedoman sebuah negara dalam melakukan
pembangunan di negaranya. Pada dasarnya menurut Gustavo strategi dan konsep
pembangunan tidak dapat digeneralisir dan diterapkan pada suatu negara tanpa
mengetahui latar belakang sejarah negara, latar belakang sosial budaya, dan latar
belakang ekonomi suatu negara yang akan melakukan proses pembangunan.[2]
e.
Majid
Rahnema
Rahnema (1997 :
20) dalam karyanya pada kemiskinan menyatakan bahwa tidak ada ‘solusi’ tentang
kemiskinan dalam modernitas tetapi untuk mencari alternatif tidak mudah karena
struktur kekuasaan yang ada tetap mempertahankan kekuasaannya agar kemiskinan
tetap terjaga. Untuk mewujudkan paradigma alternatif rahnema menyatakan bahwa
pasca pembangunan tidak harus difokuskan pada rencana aksi hanya operasional
atau spektakuler atau strategi.
Konsep
dari Majid Rahnema yang mengaggap bahwa teori development hanya menguntungkan
negara-negara barat sebagai alat kapitalis dunia. Sebaliknya ia menyerukan
komitmen dari orang-orang baik disetiap komunitas untuk membuat paradigma baru
pada persahabatan dan rasa sebenarnya dari masyarakat dengan tujuan mengakhiri
modernitas dan hegemoni global. (Rahnema 1991 ; 1997)
Di
Indonesia sendiri, gagasan post development sedikit banyak ditularkan oleh
almarhum Mansour Fakih[3].
Bukunya Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi adalah rujukan utama dan
senantiasa relevan. Buku ini menyanggah pendekatan tentang saat ini banyak yang
menyebut andil terbesar kenapa krisis ekonomi yang meledak adalah pemerintahan
yang buruk. Maka pemecahannya kemudian adalah tampilnya pemerintahan yang
bersih. Dan buku ini menyanggah pendekatan tersebut dan mulai mengkaji lebih
mendalam peran dan teori pembangunan. Dengan dalil tersebut buku ini melacak
dari akar sejarah hingga perkembangan kontemporer teori pembangunan dan
beberapa gagasan perlawanan atas teori pembangunan.
F. Negara Post Development
Adapun beberapa
negara yang telah atau masih menganut teori post
development dalam negaranya adalah
negara Jepang , Korea selatan dan China. Adapun persamaan dari ketiga negara
tersebut adalah ketiga negara kawasan Asia tersebut sebelum masuk menjadi
negara maju seperti sekarang , mereka tidak menggantungkan diri terhadap
negara-negara maju barat seperti Amerika. Justru ketiga negara tersebut dapat
menjalankan perekonomian dalam negeri dengan memanfaatkan potensi lokal yang
mereka miliki sendiri.
·
China menggerakkan potensi sumber daya
manusia mereka yang melimpah untuk membuka home-industry sebesar mungkin dalam
rangka peningkatan perekonomian negara. Bahkan hingga sekarang , barang-barang
hasil produksi china pun di ekspor ke negara-negara tetangga seperti Indonesia
·
Korea selatan tetap mempertahankan nilai
budayanya dan tidak luntur meskipun terkena pengaruh pembangunan dan
globalisasi barat . Hal ini (nilai budaya lokal) meningkatkan Korea Selatan
dalam hal sektor pariwisata dan industri dalam negeri.
·
Jepang
juga memanfaatkan potensi budaya Jepang yang kental untuk memajukan industri
dalam negeri . Tidak hanya itu , sikap warga jepang yang “disiplin: selalu
dimanfaatkan dalam proses pembangunan , sehingga pembangunan di Jepang dapat
berjlan dengan baik.
Daftar
Pustaka
Buku
Literatur
Brigg,
M. 2002. Post-Development, Foucault and
the Colonisation Metaphor, Third World
Quarterly. 23 (3): 421-436.
Escobar, Arturo.
1995. Encountering Development : The
Making and Unmaking of the Third World.
Pricenton : Pricenton University Press
Ferguson,James.1990.
The Anti-Politics Machine. Princetown University Press
Habibi, M. 2010.
Post-Development: Meninjau Ulang Pembangunan. Yogyakarta: Gava Media
Rahnema,
M. (1997). Signposts for Post-Development,
ReVision, 19 (4).
Sachs, Wolfgang.
1992. The Development Dictionary : A Guide to Knowledge as Power. New York : Zed Books Ltd.
Simanjuntak,B.,I.L.Pasaribu.
(1982). Sosiologi Pembangunan,
Bandung: Penerbit TARSITO
Makalah
& Jurnal
Makalah
Sosiologi Pembangunan – Post Development Karya Risky Dwi Yuliani Sosiologi Universitas Jember
Website
www.colorado.edu
diakses pada 7/12/2015 3:30
http://selik.org/2009/10/25/the-anti-politics-machine-review/
diakses 6/12/2015 12:04
http://stupem-chi3.blogspot.co.id
diakses pada 7/12/2015 4:12
[1] Habibi, M. 2010. Post-Development: Meninjau Ulang
Pembangunan. Dalam Kumorotomo, W dan Widaningrum, A (Ed). Reformasi Aparatur
Negara ditinjau Kembali. Yogyakarta: Gava Media
[2] Dikutip dari Jurnal
http://www.kumoro.staff.ugm.ac.id/file_artikel/Teori%20Pasca-Pembangunan.pdf
[3]Dikutip dari Simanjuntak,B.,I.L.Pasaribu.
(1982). Sosiologi Pembangunan,
Bandung: Penerbit Tarsito halaman 24-25

Hallo kak menurut kaka di era pak jokowi ini teori pembangunan apa yang paling cocok utk indonesia? Makasih kak🙏
ReplyDelete